Latest Post
Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Tidak produktif

Aku merasa produktivitasku menurun
setelah kupikir lalu kupikir lagi,
rupanya aku terlalu banyak mengeluh
waktuku habis terbuang untuk mengeluarkan kata-kata yang menghabiskan energi dan menyumpekkan hatiku
Aku harus berhenti mengeluh
 

Kelelahan

Aku tahu sekarang yang membuatku kelelahan….
Karena aku terlalu banyak menjadikan susah sesuatu yang mudah
Karena aku selalu berkata aku sibuk padahal tak ada yang kukerjakan
Karena aku selalu mengharuskan otakku memikirkan yang lain sementara dia sedang berkonsentrasi di satu pekerjaan
 

Semangat


 

Perjuangan Masa Depan

Di siang yang terik ini
Mentari berubah jadi raja langit
Yang dengan tega seakan membakar raga
Panas menyengat bagaikan lebah
Dahaga seakan menggerogoti batang leherku

Ku tetap berdiri tegak
Tatapan kosongku mencari angan
Mulai kusipitkan mata saat surya menghunjam
Lalu kumulai berjalan menyusuri tanah

Melangkahkan kakiku ke depan
Tuk memulai petualangan hidupku
Tuk mencapai satu tujuan
Demi dirimu pujaan hati

Satu tujuan yang ingin kucapai
Ingin kuhidup bersamamu
Dalam nyata kusimpan rasa cinta
Batin seakan penuh sesak
Hati ini mulai sempit rasanya
Tuk sekedar rasa rindu pada dirimu

Mengingat wajah cantikmu lelahku hilang
Lenyap seakan ditelan
Senyum manismu mendinginkan jiwaku
Yang slalu panas karna gejolak darah muda
Kasih sayang yag kubayangkan sudah cukup
Tuk buatku kuat dalam menghadapi
Petualangan yang menghadang
Menjadi tantangan hidupku

Ah,meski panas dingin menerjang tubuh
Angin ingin menghambat jalanku
Ataupun badai berpasir menggangguku
Meski peluh keringat mengguyurku
Namun ku tetap pantang menyerah
Dengan semangat ku langkahkan kaki
Ku sisingkan lengan baju yang kusam ini
Menuju masa depan cerah bersamamu
 

Kaulah Terakhir

Oh Tuhan tolonglah aku
Jadikan dia tuk jadi yang terakhir
Ku sudah terjatuh dalam cintanya
Ku sudah terbelenggu dalam kasih sayangnya
Ku seakan terselubung dalam hangatmu
Senyum manismu dan cantikmu seakan meruntuhkanku
Melemahkanku yang dahulu kuat

Semoga saja Kau jadikan dia pelabuhan terakhir
Tuk menemani diriku yang slalu kesepian
Di tengah malam seakan meringkuk dalam tebalnya gelap
Semoga takdir dapat menuntunku tuk dapatkan hatinya
Kaulah yang terakhir yang bisa selamatkan diriku
Dari jurang luka cinta
Dari lubang duka yang menganga
Seakan ingin menambah korban cinta
Memangsa siapapun yang lemah karna cinta

Dirimulah yang buatku tersadar
Sadar akan masa depan yang cerah
Takkan lagi berputus asa karena cinta
Semangatku seakan hidup kembali
Bahagiamu buatku sembuh dari luka
Senyummu buatku tak bersedih lagi

Ku sudah muak dengan khianat
Ku sudah tak tahan dengan cinta penuh laknat
Yang akan hancur hanya karena uang
Ku hanya ingin ketulusan dan kesetiaan
Dalam cinta yang manis yang kuiimpikan

Tuhan takdirkanlah ku dengan dirinya
Agar ku bisa berbahagia
Tuk hidup bersama dengannya
Kan ku setia,tulus tuk mencintainya
Meski cobaan ingin menghancurkan 
Cinta kita yang kokoh
Kaulah yang terakhir
Kaulah yang terbaik
Bagi diriku
 

Puisi Yang Hilang

Seakan sirna ide yang kutulis
Semalaman kutulis berlembar puisi
Di atas lontar putih jemariku menari
Dengan tinta telah tertumpahkan ribuan kata
Yang penuh makna dari lubuk hatiku
Peluh bercucuran demi dirimu

Namun sayang seperti butiran debu
Lenyap tak berbekas ditelan ibu pertiwi
Seakan takdir menolak mentah diriku
Yang tak berguna dan penuh dosa
Hidup dikepung keangkaramurkaan
Tapi ku bisa bertahan karena cintamu

Yah,memang hanya puisi yang hilang
Namu ku jatuh dalam sesal
Tak bisa kujaga dengan baik
Karena itu puisi pertamaku
Kepada dirimu yang spesial di hatiku
Puisi khusus tuk dirimu
Wahai sang kekasih yang telah pergi
Menyambangi rumah sang malaikat maut
Bersama puisi yang jatuh dalam lenyap
Menuju surga firdaus
Ataukah terbakar jilatan api jahanam
Ataukah tertelan tanah dingin nan gelap
Yang kelak kan membusukkanmu
Meski ku berharap
Puisi yang hilang kan ditemukan oleh dirimu
Hingga dapat merasuki ruhmu
 

Tangisan

Mata ini seakan berkaca-kaca
Menahan air mata jatuh
Membasahi tanah nan dingin

Ingin rasanya ku menangis
Ketika luka batin tetap berbekas
Bersedih ku masuk dalam lara
Duka panjang tanpa tepi
Takkan tertidur pulas sedih ini
Tetap menjadi selubung hati

Takkan hilang tangis ini
Ketika haru menjemput diri
Ketika pahit menyambangi jiwa
Luka dan duka menjadi teman bersama

Relung jiwa seakan tertutup
Penuh kesedihan dan pahit
Yang terus mendekap batin
Bahagia seakan lenyap
Tinggalkanku dan membenciku
Hati seakan sudah tak hidup lagi
Hanya ada tangis
Yang tetap mengena sukmaku

Karena dirimulah tangis ini takkan reda
Tak rela kehilangan dirimu
Yang seakan sempurna dimatamu
 

Sadisnya Dirimu

Sadisnya dirimu
Telah perdayai diriku
Dengan topeng manis nan rupawan
Kau tancapkan pisau khianat dalam batinku
Luka hati kau slalu ukir
Duka kau tanam dan pelihara

Sadisnya dirimu
Lemahkan daku oleh cinta sesaatmu
Cintamu yang semu dan palsu
Berulang kali kau selingkuh
Berpindah hati tanpa kusadari
Dengan para pria hidung belang
Di kala gelap malam
Yang sama munafiknya seperti dirimu

Kau tinggalkan diriku penuh lara
Kau jauhi daku meski ku setia padamu
Hanya demi nafsu dan ambisimu
Nafsu buasmu yang seperti binatang jalang
Hanya menginginkan kepuasan sesaat
Hasrat yang tak terlampiaskan
Ambisimu yang tak terkendali 

Memang dirimu sadis
Namun kujuga kasihan kepadamu
Semoga kau tersadar dengan dosamu
Tersadarkan oleh waktu
Suatu saat nanti
 

Dirimu Dalam Anganku

Hening dan sepi rasanya Rintikan hujan membasahi bumi
Ku tatap langit malam
Berhembuskan angin dingin
Berselubungkan gelapnya malam
Ditemani sang rembulan
Dan bintang yang bergemerlap
Seakan langit ingin berdansakan cahaya

Meski diriku ini masih merindukanmu

Kangen menyelimuti selubung batin
Di tengah galau tanpamu
Hidup jauh denganmu buatku tersiksa

Ah,malam terasa hampa

Kantuk dan lelah menyelimuti raga
Seharian kutuliskan beribu kata
Jemari menarikan puisi dan lagu
Berbuku buku telah kubuatkan
Inilah Rutinitas jenuh yang kujalani
Hingga kadang tinta seakan menguap
Tapi tetap kubiaskan semua
Demi hidup dan anganku
Agar kubisa bersamamu

Menghirup udara malam

Di antara bunga-bunga
Yang seakan tertidur
Menenangkan hati dan batin
Mengistirahatkan raga yang penuh peluh
Meski ku tak pernah berkeluh
Karena inilah hidupku
Menyegarkan otakku ini
Selalu saja pikiran ini terpacu
Bercampurkan kegundahanku
Karena cantik jelitamu mengganggu pikiranku

Tiap malam ku bermimpi dirimu

Berangankan hidup berdampingan denganmu
Berjalan berdua denganmu
Ingin hidup dengan cinta dan kasihmu
Namun ini hanya sebatas impian
Yang terkadang hilang tertiup angin
Namun mungkin impian ini akan digariskan
Disatukan oleh sang dewa takdir
Hingga hati kita bisa utuh
 

Tekad Mencintaimu

Hidup ini terus berjalan
Waktu terus berputar
Meninggalkan lampau menjadi debu
Mereka yang tak punya tekad kuat
Akan tersingkir dan takkan bisa bertahan

Hidup ini keras bagaikan batu karang

Sama dengan perjuanganku tuk dapatkan cintamu
Lelah dan letih memang
Sering ku terluka hati ini
Demi menerjang kerasnya hatimu

Meski kau cantik dan manis

Tapi kau tak manja
Karena hidup kau menjadi wanita yang kuat
Meski seakan kau dingin
Acuh dalam suatu romantisme cinta
Namun sesungguhnya dari pelupuk mataku
Ku tahu hatimu butuhkan hangatnya cinta
Meski dahulu kau pernah dikhianati
Batinmu yang terluka belum dapat kau obati
Karena mantanmu yang tinggalkan dirimu

Ku takkan lemah

Ku ingin bisa menjadi pendampingmu
Menggantikan mantanmu yang cinta semu
Manis di kata namun dia tusuk hatimu
Oleh nikmatnya perselingkuhan
 

Namun ku berbeda dengan mantanmu
Karena ku bukan pengecut
Ku bukan pencundang
Bukan pengumbar janji manis
Yang bisa taklukkan beribu kaum hawa
Ku bukan juga munafik
Yang bisa katakan setia dengan mudah
Namun harus menelan ludahnya
Karena dengan mudahnya berpaling
Ke lain hati

Meski ku lemah namun tekadku kuat

Tekad tuk mencintaimu dengan tulus
Setia dan kasih sayang kan kuberikan hanya untukmu
Demi sebuah cinta sejati
Yang takkan bisa terpisahkan takdir
 

Cinta Yang Tak Terungkapkan

Tak bisa kuungkap dengan kata
Mulut seakan terbungkamkan oleh angin
Lidah seakan kaku seperti es
Meski musim dingin telah usai
Tak tahu ku harus ungkapkan
Rasa cinta ini
Yang telah lama terpendam

Cantiknya wajahmu buat hatiku bergetar
Buatku seakan terbujur kaku
Pesonamu pancarkan kemilau gemerlap
Yang silaukan mata batinku
Ragamu yang indah membuat mataku seakan liar
Tuk hanya sekedar melirikmu ku tak mampu
Tak mampu tuk menahannya

Ku ingin mengungkapkan rasa ini
Rasa cintaku kepadamu
Yang telah tersimpan lama di selubung hati
Namun ku tak sanggup
Lemah seakan tak berdaya 
Tak punya energi tuk sekedar ucapkan itu

Ah,ku hanya bisa melihatmu dari kejauhan
Ingin kudekati dirimu namun ku tak bisa
Ku ingin menembakkan peluru cinta
Namun ku takut kalau hatimu sudah ada yang punya
Ku takut kau tolak dan campakkan cintaku ini
Cinta yang tulus dan setia ini akan mati perlahan
Bila kau jauhkan diriku 

Tuhan berikanku kekuatan
Agar ku bisa mendapatkan hatinya
Ataupun tetap bisa berjuang
Tuk mendapatkan cinta dan perhatiannya
Meski dia sudah ada yang memiliki
Ataupun takdir menjegal diriku
 

Pesona Dirimu

Ketika kasihmu menyentuh qalbuku
Di tengah gundah dan galauku
Kau datangkan kesejukkan bagi hatiku
Cintamu telah merasuk jiwa ini
Raga dan sukmaku mau menerimamu
Membukakan pintu hatiku
Yang lama tertutup

Cantik dan menawan dirimu
Pesonakan senyummu yang indah
Hatimu yang baik menambah nilai batinmu
Seakan tak ada yang mau menolakmu

Dirimu buat denyutku berdetak keras
Jantungku seakan berdebar-debar
Mengalirnya darah deras sekali
Ah inikah yang disebut cinta
Disaat ku baru pertama menatapnya
Cinta pada pandangan pertama

Problematika hidupku terbiaskan
Oleh senyum menawanmu
Seakan ku hanya bisa terdiam
Berdiri seperti orang bodoh

Mataku seakan tersilaukan
Oleh pancaran sinar cantikmu
Hati gelapku tersingkirkan hangatnya dirimu
Hangatnya cintamu yang setia
Oh Tuhan seakan ku melihat
Seorang bidadari yang baru turun
Dari langit ketujuh

Tutur katamu yang anggun
Ditambah kepandaianmu dalam bergaul
Seakan para adam dibuat takluk olehmu
Dirimu dapat meredam emosi sekitar
Dengan lemah gemulai dan santunmu
Menambah nilai di mata batinku
Ah kapan ku bisa memiliki hatimu
Hingga akhir hayat dalam setia
 

Terpesona Dirimu

Dirimu seperti sekuntum bunga
Yang baru mekar
Semerbak harumnya merangsangku
Wanginya seakan buatku terpana

Cantiknya dirimu
tak bisa kuungkap dalam kata
Meski lidah ini tak bertulang
Namun ku hanya bisa terpana
Terdiam dalam pesonamu

Ragamu yang indah
Meski kau baru beranjak dewasa
Ranumnya pemandangan ragamu
Buat mata ini takluk

Ah ku ingin merasakan cintamu
Manisnya dirimu buatku tak berdaya
Ingin rasanya kutumpahkan rasa setia dan tulusku
Hanya untuk dirimu seorang
Meski ku masih malu
Hanya bisa melihatmu dari jauh
Dan hanya bisa kutuliskan rasa ini
Dalam puisi romantika
Yang terbalutkan kata hati

Duniaku seakan teralihkan
Oleh mimpiku
Tuk bisa hidup berdua dengan dirimu
Dalam balutan selimut mesra
 

Cinta Dirimu

Ketika cinta semanis coklat
Yang seakan ingin meleleh di lidah ini
Begitu menggoda rasanya tuk dinikmati
Ketika cinta seindah faktanya
Ku merasa ingin terbang melayang
Menuju langit ke tujuh
Ketika ku jatuh cinta denganmu

Jika cinta dipersatukan
Sepasang hati manusia
Kan kembali menjadi satu
Menjadi hati yang sepenuhnya utuh
Takkan pernah tercerai berai

Jatuh terpana karena kemolekanmu
Ketika cantikmu alihkan pandanganku
Dari para hawa lain
Yang berada di duniaku

Bagiku kau adalah permaisuri
Cantik tiada tara
Bagaikan dewi drupadi
Tangguhnya hatimu
Bagaikan Dewi Srikandi

Meski ku tahu cinta bisa jadi pahit
Bagaikan racun yang membunuhmu pelan
Hingga takdir merenggut nyawamu

Namun ku tak peduli
Karena kau adalah pelabuhan cinta terakhirku
Cintaku padamu seputih salju
Dingin namun terasa hangat
Di hati dan batin ini
Tulusku hanya untukmu
Kutimpalkan hanya bagimu
Wahai kasih
Yang cantik jelita
 

Bahagianya Cinta

Seakan batin ini tersentu
Lara ini hilang karena cintamuSanubari hati berteriak riang
Menerima cintamu yang tulus
Dengan senang hati

Tak terbayang oleh diriku
Kau datangi raga ini
Dengan hangat kasihmu
Kau ungkapkan isi hatimu
Yang sama dengan isi hatiku
Seakan hati kita telah terikat
Oleh takdir yang ingin persatukan kita

Ah,cinta ini serasa manis tuk dikenang
Seperti madu dan coklat yang kita kecap
Slama kita berkencan dahulu
Indah tuk kita nikmati bersama
Seperti musim semi yang harum sakura
Bermekaran di kala hangat sang surya
 

Meski suka duka datang menghampiri
Di kala dinginnya malam mendekat
Kan terhapuskan oleh hangatnya cinta kita
 

Takkan bisa hati kita yang utuh
Diganggu oleh para penjahat cinta
Para munafik yang pintar bersilat lidah
Demi meruntuhkan cinta kita

Hati kita yang utuh
Disatukan hingga tak bercerai berai
Teguh tuk menerjang gelombang
Menuju mahligai pernikahan
Yang akan kita kenang
Hingga akhir hayat
Karena cinta kita telah berlabuh
Menuju pelabuhan terakhir cinta
 

Dirimu Di Hatiku

Ragamu cantik nan jelita
Putih bersih kulitmu
Sama tersiratkannya isi hatimu
Rambutmu yang terurai panjang nan hitam
Wajahmu dan lirikan matamu
Buatku tergoda tuk mengecap cintamu
Tak ada gelap yang menyelubung hatimu
Hanya ada cinta yang tulus
Di dalam sanubari hatimu

Ku suka dengan pribadimu
Pantang menyerah demi cita-citamu
Demi meraih cinta yang setia dan tulus
Seputih salju

Mungkin hanya diriku yang pantas
Untuk hidup berdampingan denganmu
Hatiku kan selalu bersandarkan hatimu
Di saat hati lelah tuk mencari cinta sejati

Mungkin hanya dirimu yang pantas
Tuk mengisi kekosongan hatiku
Relung batin yang seakan mengering
Dan mendingin karena tak ada lagi
Hangatnya cinta yang buatku hidup

Tanpa dirimu seakan ku mati
Seakan ku hilang arah
Lentera hati ini seakan kelam
Gelap gullita tanpa dirimu

Kau kan slalu berada di hatiku
Hingga hayat terkandung didalam raga
Sebelum malaikat mencabut dengan kejam
Nyawaku yang telah terbalutkan
Cinta kita berdua
 

Kenangan Masa Lalu

Ketika rasa ini sudah lama terpendam
Cinta yang telah lama tak terlampiaskan
Ku ingin mengungkapkannya
Namun hanya sepi yang kutemui

Sendiri ku dalam asa
Yang hanya kan menjadi angan
Anganku seakan telah tertiup angin
Hingga menghilang bagaikan butiran debu

Harapanku tuk mencintaimu pupus sudah
Takkan ada lagi cinta tulusmu
Di saat ku membutuhkannya
Takkan ada lagi kasih sayangmu yang hangat
Di saat ku merasa dingin menusuk tulang
Dan menembus hati ini 

Namun semua kenangan manis itu
Takkan sirna ditelan oleh waktu
Takkan hilang oleh lampau
Yang seakan berakhir di kala surya tenggelam
Menuju malam gelap nan kelam
Kenangan kita berdua kan kusimpan dalam batinku
Kenangan romantis kita tetap terukir abadi
Di dalam hatiku yang rapuh

Dalam renungku ku tetap mencintaimu
Meski kau sudah jauh dari pelupuk mataku
Kenangan-kenangan yang kita ciptakan
Kan kubuat menjadi memori indah
Dalam secarik puisi ini
Yang kan kekal abadi
Serta semua orang kan menyukainya
 

Kajian Struktural Genetik Puisi "AKU"

AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Chairil Anwar
  1. Hakikat Puisi (Batin)
1. Sense (tema) : Kehidupan sosial
2. Feeling (rasa) : Angkuh sebagai wujud sikap berontaknya kepada bangsa Jepang demimendapatkan kemerdekaan
3. Tone (nada) : Karakter “Aku” dalam sajak ini sangatlah gigih dalam berjuang mendapatkankemerdekaan sehingga “Aku” terkesan sangat angkuh
Intention (tujuan) : Menunjukkan bahwa “Aku” akan terus berusaha hingga tetes darah penghabisan untuk mencapai kemerdekaan bangsanya. “Aku” tidak akan peduli meskipun ada yang merayu kepadanya, bahkan kalau ada peluru yang menembus kulitnya pun tidak akan dihiraukan karena “Aku” akan terus berontak
  1. Metode Puisi (Unsur Fisik)
1. Diksi : Kakofonik (kasar)
2. The konkrit word : Denotatif dan konotatif
3. Imajery : Daya khayal penyair tinggi
4. Gaya bahasa : Tidak terlalu banyak menggunakan gaya bahasa
5. Rhythm dan rima : Rima bebas

Kajian Struktural Genetik
Sajak AKU Karya Chairil Anwar

Dilihat dari keseluruhan puisi, baik hakikat maupun metode puisi, terlihat jelas bahwa tema yang diangkat penyair dalam sajak tersebut adalah mengenai kehidupan sosial pada zaman penjajahan Jepang, dimana bangsa Indonesia sangat merindukan kemerdekaan termasuk yang dirasakan oleh penyair sendiri. Sajak tersebut memang menggunakan sudut pandang orang pertama yang digambarkan oleh sosok “Aku”. Karakter dari tokoh “Aku” sendiri sangatlah angkuh, terlihat dari kata-kata yang dipilih untuk membangun sajak tersebut.

Sajak tersebut merupakan wujud kegigihan penyair untuk memberontak kepada Jepang, karena Ia sangat merindukan kemerdekaannya. Tak kan dihiraukan kalau ada yang merayu kepadanya, tak perlu sedu sedan, kalau peluru menembus tubuhnya pun tak akan dihiraukan, luka bisa dibawa berlari hingga hilang pedih perinya. Demikianlah jiwanya berontak demi mencapai kemerdekaan bangsanya. Peluru sudah menembus tubuhnya pun ia akan terus berontak hingga tetes darah penghabisan.

Chairil Anwar memang seorang manusia biasa namun sering melakukan yang bukan-bukan. Jiwa Chairil Anwar selalu berontak, gelisah, sehingga karya-karyanya bersifat revolusioner, individualistis, realistis, dan universal. Selain itu, Chairil Anwar juga berjiwa sombong dan keras kepala. Meskipun Sutan Takdir Alisjahbana mengkritik Chairil, ia tetap tak bisa menolak bahwa Chairil berjasa besar dalam memberi sumbangan bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Asrul Sani menuturkan bahwa Chairil mempunyai rasa bahasa luar biasa untuk memberi makna pada kosa kata baru Bahasa Indonesia.

Apa arti Chairil Anwar buat kita sekarang? Prof. Dr. Mursal Esten, Pimpinan Redaksi Majalah Sastra, Guru Besar FPBS Universitas Negeri Padang (tahun 2000), mengatakan: Ia adalah personifikasi dari pikiran-pikiran yang menjawab tantangan-tantangan zamannya, dan pikiran-pikiran yang menjawab tantangan masa depan. Ia adalah personifikasi dari keberanian untuk menjadi subyek di dalam sebuah proses perubahan yang panjang dan global. Ia adalah personifikasi atau lambang dari kekuatan kreativitas, sesuatu yang amat diperlukan dalam kelangsungan hidup masyarakat dan umat manusia. Chairil Anwar adalah symbol yang memperlihatkan bahwa hidup manusia terbatas, akan tetapi pikiran-pikiran dan karyanya dapat melintasi zaman.

Sajaknya yang termashur dan merupakan gambaran semangat hidupnya yang membersit-bersit dan individualistis ialah yang berjudul ’Aku’ (di tempat lain diberi judul ’Semangat’). Dalam sajak itu ia menyebut dirinya sebagai ”binatang jalang”, sebutan itu pun menjadi terkenal. Tetapi di samping seorang individualis, Chairil pun seorang yang mencintai tanah air dan bangsanya.

Sajak AKU ini lahir sebagai bentuk pemberontakan terhadap penjajahan Jepang karena Chairil Anwar memang penyair yang paling menonjol di angkatan ’45. Chairil Anwar selalu menulis sajak-sajak yang bermutu tinggi dengan mengetengahkan dua ciri, yaitu pertama jenis Sastra Mimbar (sastra yang menyandang suatu ideologi atau pemikiran besar tertentu, seperti revolusi, perang). Sastra Mimbar secara tematis sangat erat hubungannya dengan keadaan dan persoalan zaman. Hal ini dapat berupa tanggapan atau jawaban dari persoalan-persoalan besar zaman itu. Ciri yang kedua, Chairil juga menghasilkan Sastra Kamar, sastra yang menggarap tema-tema keseharian serta berlatarkan situasi keseharian.
 
 
Support : Makrus Sahlan | Makrus twitter | Blog PMR
Copyright © 2011. Makrus Bindo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger